banner 728x250

Taksi Laut Milik Warga Pulau Kerampuang, Bertahan Ditengah Pandemi

  • Bagikan
banner 468x60

MAMUJU, pojokcelebes.com | Ditengah pandemi Covid  – 19 mewabah dimana – mana. Para pelaku usaha mikro di Kabupaten Mamuju yang menjadi ibu kota Provinsi Sulawesi Barat ( Sulbar ), harus mampu bertahan hidup kalau tidak pasti gulung tikar. Tak terkecuali, pengelolah kapal kecil yang akrab disebut taksi laut.milik warga Kerampuang, yang sehari – hari menyeberangkan penumpang dari pulau Karampuang ke kota Mamuju, kini hampir semua gigit jari karena sepinya penumpang. 

Pantaun di pelabuhan penyeberangan Kasiwa Mamuju Kabupaten Mamuju. Kapal berukuran mini ini hampir bisa dihitung dengan jari, berkapasitas 50 sampai 40 orang, biasanya warga pulau Karampuang, menyebutnya taksi laut karena setiap harinya menjadi pemandangan unik saat lalu lalang menyeberangi perairan Mamuju dari pulau Karampuang yang jarak tempuhnya hanya 30 menit hanya membawa penumpang.

banner 336x280

Diterik matahari di sekitar pelabuhan Kasiwa Mamuju, terlihat seorang pria paruh baya. Namanya Masta, ditemani istrinya yang tengah sibuk mencari penumpang. Sesekali setiap orang lewat tidak bosan – bosan menawarkan tumpangan taksinya ke  warga yang ingin ke pulau Karampuang, ” bapak mau ke mana? kalau mau Pulau Karampuang, ayo sama saya saja, ” pintanya.

Kepada media ini, Bapak Empat anak ini menceritakan pekerjaannya yang sudah puluhan tahun digelutinya,  hingga bisa menyekolahkan Empat orang anaknya. kata dia, sebelum memiliki taksi laut. kata dia, sudah memiliki perahu kecil ( ketinting ) yang kapasitas Dua sampai Lima orang dan itu sekitar tahun Delapan Puluhan. Selama menjadi pengemudi taksi laut, hingga saat ini kebutuhan sehari – hari bisa tertutupi, meskipun istrinya juga menjadi karyawan harian di salah satu rumah makan. Dan kondisi ini mampu bertahan sebelum ada serangan wabah Covid – 19 masuk di Mamuju. Dia mengaku, pendapatannya baik dari hasil taksi laut dan hasil istrinya yang menjadi karyawan harian disalah satu rumah makan di kota Mamuju, bisa menutupi kebutuhan hari – harinya bahkan bisa menyekolahkan Keempat anaknya.  

” Sebelum musim Corona ada, selalu pekerjaan ini sudah saya geluti setiap hari dan mau tak mau harus bekerja, dan istri saya hanya kerja di rumah makan. Alhamdulillah, dengan menjadi pengemudi taksi laut, anak saya bisa saya sekolahkan, dan biaya sehari – hari bisa tertutupi, ” ujarnya.
               
Namun kehadiran Covid – 19 di Mamuju, Masta mengaku sangat berdampak pada penghasilan yang diterima setiap hari bahkan kebutuhan sehari – harinya terseok, beruntung istri yang menjadi karyawan harian bisa menopang. Dia mengaku, sebelum mewabah virus corona, pendapatan setiap harinya bisa mencapai 200 Ribu sampai 300 Ribu per harinya tetapi saat ini pada masa pandemi pendapatan diraup hanya 100 ribu lebih per hari dan kadang – kadang dibawa target.

” Sekarang ini untung – untungan kalau dapat 100 ribu, biasanya hanya pembeli minyak solar pak, ” ucapnya

Lanjut kata dia, jumlah pendapatan yang didapat sebelum Corona, dinilai sangat menjanjikan untuk bisa membayar kelancaran kredit usaha rakyat ( Kur ) di Bank BRI. Namun yang terjadi saat ini, hampir semua pengelola taksi laut pada gigit jari, dengan alasan penumpang yang sangat kurang.

” Kami jujur pak, hampir semua kapal yang kami pakai ini belum lunas ambilan di Bank. Karena biaya pembuatan kapal taksi ini, kami menggunakan uang pinjaman dana KUR dari Bank puluhan juta dengan diangsur setiap bulannya. Tetapi dengan kondisi saat ini Covid -19, pihak Bank punya dispensasi ke kami yang hanya membayarkan bunga saja selama masih berlangsung pandemi, ” terangnya

Masta bersama se pekerjanya sebagai pengelola taksi laut, tentunya sangat berharap ke pemerintah agar bantuan terdampak Covid – 19 bisa juga dirasakan. Dia mengaku, Kapal kayu atau taksi laut yang sehari – hari menggunakan minyak solar, tentunya bisa menjadi perhatian pemerintah seperti keberadaan harga khusus yang tidak memberatkan perkapalan di tengah pandemi ini. Menurut dia, keberadaan taksi laut yang dikelola sudah bertahun – tahun bersama kawannya harus patut diapresiasi oleh pemerintah, karena taksi ini menjadi jembatan utama bagi warga Pulau Karampuang yang hendak ke Mamuju untuk mencari kebutuhan hari – hari. Dia mengaku, jika tidak ada taksi laut yang beroperasi dipastikan warga Pulau Karampuang sebagian akan kesulitan mendapatkan kebutuhan sehari – hari.  

” Jarak tempuh dari pulau Karampuang ke Mamuju kisaran 30 menit sudah sampai. Kalau tidak ada taksi laut ini yang tiap hari kami operasikan, warga Karampuang akan kesulitan dapat kebutuhan sehari – hari terutama anak sekolah. Jadi ini harus menjadi perhatian pemerintah kepada pekerja taksi laut ini, karena jasanya setiap hari selalu dirasakan warga lainnya, ” pintanya. | ****

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.