Cerita Pengelolah Taksi Laut Bertahan Ditengah Pandemi, Penumpang Wajib Pakai Masker

Cerita Pengelolah Taksi Laut Bertahan Ditengah Pandemi, Penumpang Wajib Pakai Masker

DI TENGAH masa pandemi Covid  – 19 yang sudah mewabah dimana – mana. Para pelaku usaha mikro di Kabupaten Mamuju yang menjadi ibu kota Provinsi Sulawesi Barat ( Sulbar ), harus mampu bertahan hidup. Kalau tidak, sudah pasti gulung tikar. Tak terkecuali, pengelolaan usaha kapal kecil yang akrab disebut taksi laut yang dikelola beberapa warga Karampuang. Taksi laut, berfungsi menjadi jembatan bagi warga Desa Karampuang yang sehari – hari ingin ke kota Mamuju. Usaha ini, kini hampir semua gigit jari karena sepinya penumpang akibat Covid – 19. 

Penulis, mencoba melihat aktivitas warga di pelabuhan Kasiwa Mamuju, yang menjadi tempat berlabuh kapal – kapal kecil ( taksi laut ) yang tiap saat merapat membawa penumpang. Kapal berukuran mini itu, hampir bisa dihitung dengan jari, karena sebagian memilih istirahat ketimbang keluar cari penumpang.   

BACA JUGA

Diterik matahari di sekitar pelabuhan Kasiwa Mamuju, terlihat seorang pria paruh baya. Namanya Masta, ditemani istrinya yang tengah sibuk mencari penumpang. Sesekali setiap orang lewat tidak bosan – bosan menawarkan tumpangan taksinya ke  warga yang ingin ke pulau Karampuang, ” bapak mau ke mana? kalau mau Pulau Karampuang, ayo sama saya saja, ” pintanya.

Bapak Empat anak ini menceritakan pekerjaannya yang sudah puluhan tahun digelutinya,  hingga bisa menyekolahkan Empat orang anaknya. kata dia, sebelum memiliki taksi laut. Saat ini, penumpang sangat kurang karena masyarakat lebih memilih tinggal di rumah ketimbang keluar, untuk menghindari penyebaran virus Corona. Namun masalah ini, berdampak pada penghasilan setiap hari sebagai pengusaha taksi laut.   

” Sebelum musim Corona, penumpang sangat membludak, baik dari pulau karampuang maupun warga yang ingin hendak ke kota Mamuju, jujur pendapatan setiap hari lumayan banyak, ” ujar Nasta   

Masih dia, wabah virus corona yang saat ini melanda dunia, baginya tidak peduli asal mematuhi anjuran pemerintah ( Protokol kesehatan ). Setiap hari dirinya harus diperhadapkan dengan kondisi baru ( New Normal ) seperti penumpang kapal wajib harus menggunakan masker dan penumpang kapal harus dikurangi jumlahnya.

Kehadiran Covid – 19 di Mamuju, Masta mengaku sangat berdampak pada penghasilan yang diterima setiap hari bahkan kebutuhan sehari – harinya terseok, beruntung istri yang menjadi karyawan harian bisa menopang. Dia mengaku, sebelum mewabah virus corona, pendapatan setiap harinya bisa mencapai 200 Ribu sampai 300 Ribu per harinya tetapi saat ini pada masa pandemi pendapatan diraup hanya 100 ribu lebih per hari dan kadang – kadang dibawa target.

” Sekarang ini untung – untungan kalau dapat 100 ribu, biasanya hanya pembeli minyak solar pak, ” ucapnya

Lanjut kata dia, jumlah pendapatan yang didapat sebelum Corona, dinilai sangat menjanjikan untuk bisa membayar kelancaran kredit usaha rakyat ( Kur ) di Bank BRI. Namun yang terjadi saat ini, hampir semua pengelola taksi laut pada gigit jari, dengan alasan penumpang yang sangat kurang.

” Kami jujur pak, hampir semua kapal yang kami pakai ini belum lunas ambilan di Bank. Karena biaya pembuatan kapal taksi ini, kami menggunakan uang pinjaman dana KUR dari Bank puluhan juta dengan diangsur setiap bulannya. Tetapi dengan kondisi saat ini Covid -19, pihak Bank punya dispensasi ke kami yang hanya membayarkan bunga saja selama masih berlangsung pandemi, ” terangnya

Masta bersama se pekerjanya sebagai pengelola taksi laut, tentunya sangat berharap ke pemerintah agar bantuan terdampak Covid – 19 bisa juga dirasakan. Dia mengaku, Kapal kayu atau taksi laut yang sehari – hari menggunakan minyak solar, tentunya bisa menjadi perhatian pemerintah seperti keberadaan harga khusus yang tidak memberatkan perkapalan di tengah pandemi ini. Menurut dia, keberadaan taksi laut yang dikelola sudah bertahun – tahun bersama kawannya harus patut diapresiasi oleh pemerintah, karena taksi ini menjadi jembatan utama bagi warga Pulau Karampuang yang hendak ke Mamuju untuk mencari kebutuhan hari – hari. Dia mengaku, jika tidak ada taksi laut yang beroperasi dipastikan warga Pulau Karampuang sebagian akan kesulitan mendapatkan kebutuhan sehari – hari.  

” Jarak tempuh dari pulau Karampuang ke Mamuju kisaran 30 menit sudah sampai. Kalau tidak ada taksi laut ini yang tiap hari kami operasikan, warga Karampuang akan kesulitan dapat kebutuhan sehari – hari terutama anak sekolah. Jadi ini harus menjadi perhatian pemerintah kepada pekerja taksi laut ini, karena jasanya setiap hari selalu dirasakan warga lainnya, ” pintanya. | ****

Bagikan :

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on telegram

BacaJuga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

AYO BERIKLAN…..!!

 

 

IKLANKAN USAHA ANDA !

 

Ekonomi

IKLAN MURAH HANYA DISINI !

 

 

BANNER 1

Berita Terbaru