banner 728x250

Cerita Pelajar Desanya Jauh Jaringan Internet, Belajar Daring Hingga ke Pinggir Pantai

  • Bagikan
Ket Foto : Belasan siswa duduk dibawah pohon di pinggir pantai yang memiliki titik internet, mereka belajar lewat Daring akibat pandemi.
banner 468x60

Problem jaringan internet sebagai pendukung dalam belajar dalam jaringan ( Daring ). Belasan pelajar yang menempuh pendidikan setingkat SMA tinggal di Desa Tapandullu Kecamatan Simboro Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat ( Sulbar ), harus pasrah dengan mencari titik spot jaringan internet tiap hari untuk bisa belajar lewat Daring. Kondisi ini, pantai tempat berjejeran perahu – perahu kecil yang tidak jauh dari rumahnya menjadi sasaran tempat belajar Daring setiap harinya.

Desa Tapandullu yang letaknya di pesisir bagian barat ibu kota Mamuju. Masyarakat desa ini, rata – rata berpenghasilan nelayan dan berkebun. Untuk bisa menempuh desa ini harus menempuh jarak 30 kilometer dengan jalan yang sedikit rusak. Dan diakui, jika sudah memasuki desa ini benar – benar jauh kita keluar dari jangkauan internet.

banner 336x280

Hal ini yang menjadi kendala bagi siswa yang aktif belajar Daring dampak dari pandemi. Meskipun demikian, kadang – kadang juga mengeluh akibat ketersediaan pulsa data yang memang harus masih dibeli di konter – konter yang jaraknya cukup jauh dari desanya. 

Misalnya Nuraena, sudah kelas tiga di Madrasyah Aliyah Negeri ( MAN )  1 Mamuju, mengaku sudah hampir 10 bulan dirinya bersama teman – teman harus tiap hari nongkrong di pantai untuk belajar Daring. Namun sial bagi Nuraena, karena sudah hampir beberapa bulan harus nebeng dengan temannya karena perangkat handphonenya mengalami kerusakan. Hal ini membuatnya sudah ketinggalan beberapa pelajaran akibat tidak memiliki handphone.

” Jujur pak, saya bersama teman – teman belajarnya sangat tidak maksimal karena setiap hari cari jaringan internet. Disamping itu, saya juga tidak memiliki handphone dan harus nebeng dengan temanku. Saya harus manfaatkan waktu tiap hari itu pun kalau jaringan internet bagus, ya kalau tidak kami hanya duduk saja pak, ” Nuraena kepada pojokcelebes.com

Dia mengaku, belajar lewat Daring bersama teman – temannya mulai pagi hari hingga siang, tergantung dari pelajaran yang masuk lewat pesan grup Whatsapp ( WA ) dari wali kelas. Lanjut kata dia, pelajaran yang masuk selalu dikirim dari guru dalam bentuk foto, tentu memakan pulsa data yang banyak jika setiap harinya membuka foto – foto pelajaran yang dikirim lewat pesan Whatsapp. Dan jika ada tugas dari guru, lembaran pelajaran tersebut harus di foto dan diteruskan ke guru yang memberikan tugas. 

” Lembaran tugas di foto pak lalu kami kerjakan ramai – ramai dan selanjutnya kami kirim kembali dan hal ini memakan pulsa banyak. Kami harus pasrah menerima keadaan jika tidak kami tidak belajar, ” harap Nuraena

Senada dengan Ashar kelas 3 dari MAN I Mamuju, juga memiliki segudang keluhan seperti jaringan internet dan kuota internet. Kata dia, selama ini jaringan internet di desanya sangat tidak mendukung proses belajar lewat Daring karena memang tidak memiliki tower jaringan internet. Untuk bisa belajar, Ashar harus pasrah duduk dibawah pohon di pinggiran pantai hanya mencari titik jaringan yang bagus. 

” Begini sudah kondisi kami pak, kami kendala dengan jaringan dan pulsa data internet. Pantai ini menjadi tempat belajar kami setiap hari karena memang hanya disini titik jaringan internet, ” ujar Ashar

Dirinya kata dia bersama dengan kawannya harus kreatif dengan kondisi saat ini. Jika selesai belajar layanan paket data harus dinonaktifkan kecuali layanan telepon. Hal itu kata dia, untuk meminimalisir pemakaian data internet yang tidak berguna yang tidak mendukung pelajaran. Dia mengaku, pemakain pulsa data jika aktif belajar dirinya harus habiskan 60 ribu per minggu.

“Iya memang saya kemarin dapat bantuan dari Kemendikbud 35 GB kuota data dan itu sudah habis pak. Dan akhir – akhir ini saya pakai pulsa data pribadi pak yang masih dibantu orang tua, ” tutur Ashar

Ashar bersama Aena yang menggantungkan cita – citanya setinggi langit, tidak pasrah dengan kondisi saat ini. Baginya, belajar Daring adalah sangat penting namun jika jaringan lagi ngadat mereka harus bisa baca buku yang telah dipelajarinya. Ashar dan Aena, berharap agar pemerintah kabupaten maupun Provinsi Sulawesi Barat, bisa memberikan perhatian bagi anak – anak yang tinggal jauh dari jangkauan jaringan internet. 

” Kami harus semangat belajar meskipun kami terkendala dengan jaringan internet tetapi kami harus terus memanfaatkan waktu untuk terus belajar. Namun kondisi saat ini kami juga berharap agar Pemda baik dari kabupaten dan provinsi bisa memperhatikan pelajar yang desanya jauh dari jangkauan internet, ” pinta Ashari***

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.