Ditenda Pengungsian Ibu Bersama Bayinya, Kajati Sulbar Salurkan Santunan 13 Juta

Ditenda Pengungsian Ibu Bersama Bayinya, Kajati Sulbar Salurkan Santunan 13 Juta

MAMUJU,pojokcelebes.com | Kejati Sulawesi Barat ( Sulbar ) terus memberikan perhatian kepada ibu Sabriah yang masih tinggal anaknya umur 5 hari yang masih bertahan hidup di tenda pengungsian.

Perhatian tersebut kembali mendatangi tenda milik pasangan Mukhlis dengan Sabriah dengan bayi mungilnya di Desa Tampa Padang Kecamatan Kalukku Kabupaten Mamuju. Rabu sore ( 27/ 1 ). Tim dipimpin langsung Kejati Sulbar Johny Manurung, bersama pejabat utama Kejati seperti Aspidus, Asintel, Aspidum dan Penkum Kejati Sulbar.

BACA JUGA

Tenda yang berukuran kecil itu, disambangi rombongan Kejati Sulbar dan kembali menengok kondisi bayi laki – laki itu yang terlihat tertidur pulas dalam kelambu kecilnya. Kajati Sulbar pun langsung menyerahkan bantuan berupa uang tunai senilai 10 juta rupiah titipan dari mantan bupati Batang Yoyok Riyo Jawa Tengah, dan hari ini Kamis 28 Januari 2021, bantuan uang tunai sejumlah 3 juta titipan dari Erni Kecin Kisaran kembali akan diserahkan dan total bantuan yang diterima ibu Sabriah sudah 13 juta. Lanjut kata dia, Pihak Kejati Sulbar bersama donatur berharap dengan adanya bantuan kemanusiaan yang disalurkan ini bisa bermanfaat dan bisa meringankan beban hidup selama di tenda pengungsian.

” iya pak Kajati Sulbar kembali mengunjungi tenda yang bernaung ibu dan bayi yang masih berumur 5 hari. Kalau kita lihat kasian ya, tapi gimana lagi karena tawaran pak Kajati ditolak tinggal di Rujab. Tapi hari ini pak Kajati kembali menyerahkan bantuan uang tunai kepada ibunya untuk keperluan hidup sehari – sehari senilai 10 juta dan 3 juta dari ibu Erni. Semoga bantuan ini, bisa meringankan hidup mereka selama dipengungsian,” jelas Asintel Irvan Samosir.

Seperti diketahui, nama anak itu diberi nama oleh bapaknya Mukhsin Mukhlis. Dia lahir hari Sabtu tanggal 23 Januari 2021, di tenda dengan ditolong relawan medis. Selama dilahirkan bayi tersebut hingga saat ini masih bertahan di tenda pengusian. Diketahui, salah satu alasan orang tuanya belum berani pulang ke rumah karena masih trauma dengan gempa 6,2 Skala Richter. Bahkan diketahui kedua anaknya menjadi korban meninggal atas keganasan gempa di Palu tahun 2018./Aji

Bagikan :

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on telegram

BacaJuga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru