Proyek Bendungan Irigasi Tommo Habiskan Triliunan, Petani Belum Dapat Manfaat

Jadi Proyek Abadi, Bendungan Irigasi Tommo Tidak Berikan Manfaat ke Petani    

Pojokcelebes.com – Proyek abadi pembangunan bendungan dan irigasi yang ada di Desa Campaloga Kecamatan Tommo Kabupaten Mamuju. Rupanya keberadaannya sudah memasuki tahun Keempat yang dibangun sejak tahun 2018.  Hal ini, menjadi pertanyaan bagi petani karena dengan menyerap anggaran besar proyek tersebut tidak bisa memberikan manfaat bagi petani.

Kondisi ini, petani sudah mulai tidak nyaman dengan kehadiran bendungan dan irigasi tersebut. Alih – alih bendungan dan irigasi itu akan memberikan kontribusi besar bagi petani sawah, namun yang terjadi petani malah gigit jari karena kebutuhan air di bendungan itu tidak memberikan manfaat. Dengan kondisi ini petani ancam akan mengalihfungsikan areal sawahnya menjadi lahan sawit.       

BACA JUGA

Informasi yang diterima Media ini, kondisi bangunan irigasi sudah mulai retak dan rusak. Tentunya irigasi ini akan tidak bisa difungsikan. Itu berarti, bangunan irigasi ini kembali menunggu penganggaran perbaikan selanjutnya. Hal ini sudah menjadi sorotan petani, karena anggaran yang diserap tidak sedikit. Setiap item pekerjaan pembangunan bendungan irigasi dipastikan miliaran rupiah. Bahkan petani berharap, jika tidak bisa difungsikan bendungan dan irigasi mending distop penganggarannya.

Ditemui Ketua KTNA Kecamatan Tommo, Bahrum mengatakan, keberadaan proyek bendungan Tommo, benar – benar tidak memberikan manfaat ke petani. Kondisi ini, sangat dirugikan petani yang ada di Kecamatan Tommo dan sekitarnya. 

 

Menurut Bahrum, entah berapa dana yang sudah digelontorkan dari pusat untuk pembangunan infrastruktur ini. Bahrun mengaku, berdasarkan pengakuan para petani, areal persawahan dalam jangka lima tahun kedepan jika bendungan dan irigasi tidak berfungsi, areal persawahan akan mengalihfungsikan menjadi areal perkebunan kelapa sawit.      

“Jangka lima tahun kedepan kalau bendungan ini tidak difungsikan juga, petani akan mengalihfungsikan lahan mereka ke tanaman kelapa sawit karena lebih menjanjikan, walaupun petani sudah ada tanda tangan diatas materai terkait tidak dibolehkan di alih fungsikan lahan ke pertanaman kelapa sawit.” katanya

Bahrun menceritakan persawahan Tommo, dulu sebelum ada pembangunan bendungan dan Irigasi. Diketahui areal persawahan di Kecamatan Tommo yang masih mengandalkan tadah hujan, petani Tommo, pernah jadi lumbung padi bahkan dalam satu hektar sawah bisa menghasilkan 7 ton hasil panen. Berbeda saat ini, sekarang petani hanya bisa dapatkan hasil panen satu ton itu pun kalau sampai.

“ Petani Tommo itu pernah dapat sampai 7 ton sebelum ada bendungan irigasi. Petani menyangka setelah adanya pembangunan bendungan irigasi, petani akan surplus beras. Namun kenyataannya berbanding terbalik. Dan betapa ruginya bendungan dan irigasi yang tiap tahun dianggarkan pemerintah tapi tidak juga dirasakan manfaatnya oleh petani, “ kesalnya.    

Senada dengan Ridwan Kepala Desa Campaloga. Ridwan mengatakan, bahwa proyek pembangunan infrastruktur bendungan dan irigasi yang ada di Desa Campaloga, yang menelan anggaran triliunan, menjadi pertanyaan bagi aparat desa. Dia menyebutkan, proyek ini adalah proyek abadi bagi pemangku kepentingan karena tiap tahun dianggarkan pembangunannya. Jika proyek ini lagi mau di kerja, kontraktor hanya mengirimkan surat pemberitahuan ke Pemdes Campaloga.   

“Pembangunan saluran irigasi persawahan ini, hanya dijadikan proyek abadi karena tiap tahun di anggarkan. Dan di saat ada kontraktor masuk kerja, kami cuman di kirimkan surat pemberitahuan saja, di saat ada masalah baru mau ke kantor desa. “ keluhnya.

Ridwan berharap ada aparat hukum yang bisa memeriksa proyek ini dan bisa turun langsung ke lapangan melihat kondisi bendungan Campaloga. Kata dia, jangan hanya anggaran proyek desa dibidik, tetapi anggaran triliunan rupiah diabaikan.    

“ Kami sangat menyayangkan dengan adanya bangunan tersebut yang belum difungsikan. Seandainya dana Dana Desa seperti ini, mungkin kami sudah di kejar – kejar APH yang nilainya cuman ratusan juta di banding proyek irigasi yang milyaran, bahkan mungkin sudah mencapai triliunan.” pungkas Ridwan./Zul

Bagikan :

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on telegram

BacaJuga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru