Berbagai Keluhan Warga Belang – Belang Terhadap PLTU

Berbagai Keluhan Warga Belang – Belang Terhadap PLTU

Pojokcelebes.com | Polusi udara berupa debu dan embun yang diduga ditimbulkan dari pembakaran batu bara milik Pembangkit Listrik Tenaga Uap ( PLTU ) di Belang – Belang, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi, dikeluhkan warga yang bermukim di sekitar PLTU.

Wandi, salah seorang warga Dusun Talaba, Desa Belang – Belang, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju mengaku, keberadaan PLTU di tengah pemukiman warga sudah mulai berdampak kepada warga yang tinggal tidak jauh dari perusahaan.  

BACA JUGA

Kata dia, pencemaran udara yang ditimbulkan sudah berdampak pada warga setempat, terlihat adanya atap seng rumah warga yang sudah rusak berkarat. Rusaknya atap seng warga sebelum nya sudah mendapat perhatian namun diakui Wandi, tidak maksimal yang diketahui hanya satu bulan satu rumah dilayani, sementara beberapa rumah harus dilayani.

“Embun dari hasil pembakaran batu bara yang dicampur zat kimia dari PLTU Belang – Belang menyelimuti rumah warga, sehingga mereka harus berkali-kali mengganti atap rumahnya yang berkarat dan bocor. ” kata Wandi.

Selain polusi udara yang dikeluhkan warga, sebut Wadi,  juga yang persoalkan adalah keberadaan bagang pacok salah satu alat ongkos ikang tradisional, yang dilarang berada di area laut dekat dengan perusahaan. Sempat kata dia, pihak perusahaan akan mengganti rugi nelayan pemilik bagang pacok, jika tidak menempatkan bagang di area laut yang dilalui kapal pengangkut batu bara.

” dulu pak kami punya bagang pacok (alat penangkap ikan), sekarang semua tidak ada karena dilarang dari awal. Pihak PLTU bilang kami akan ganti rugi semua tapi yang di ganti rugi cuman ada beberapa saja, lebih banyak yang tidak di ganti rugi dari pada di ganti rugi. ” kesalnya.

Saat ini, penghasilan nelayan pacok sudah berkurang karena nelayan yang ingin membuat bagang pacok sudah tidak bisa karena akses sering dilalui kapal pemuat batu bara.

” Kami sekarang pak mau membuat bagang salah, tidak membangung salah. Begini mi kurang mata pencaharian bahkan hampir tidak ada karena akses kami dilalui Kapal Pontong (Kapal Pemuat Batu Bara),” jelas Windi

Senada dengan M. Ramli juga menyayangkan pemerintah memberikan izin untuk mendirikan PLTU di tengah pemukiman warga yang tidak memberikan kontribusi kepada warga setempat. Seharusnya, pemerintah harusnya mengkaji dulu apakah berdampak atau tidak agar tidak merugikan masyarakat setempat.

Lanjut Kata dia, warga yang berada di sekitar PLTU harusnya mendapat kompensasi agar tidak saling menyulitkan. Pihak PLTU harusnya tidak menutup mata dan melihat di Dusun Talaba ini ada sekitar 108 KK atau 500 jiwa manusia yang merasakan dampak dari polusi udara yang bersumber dari perusahaan dan dikhawatirkan terkena penyakit infeksi saluran pernafasan atau ( ISPA )

” saat kami mau menyampaikan tuntutan kami bahkan sudah beberapa kali, mereka banyak alasan bahkan tidak dibolehkan masuk ketemu pimpinan mereka untuk ketemu. ” Ungkapnya 

Media ini ingin melakukan upaya konfirmasi kepada pihak PLTU Belang – Belang, lagi- lagi terganjal dengan ketatnya penjagaan security di depan area pintu masuk.

Lewi salah seorang Security PLTU, hanya meminta maaf kepada wartwan media dan menyampaikan karena pimpinannya belum bisa ditemui dengan salah satu alasan meeting.

” maaf tidak boleh masuk karena pimpinan sedang rapat dan tidak boleh di ganggu dalam waktu beberapa hari ini,” kata Lewi yang mencegah wartawan ketemu dengan pimpinan PLTU./Zul

 

Bagikan :

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on telegram

BacaJuga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

AYO BERIKLAN…..!!

 

IKLANKAN USAHA ANDA !

Ekonomi

IKLAN MURAH HANYA DISINI !

 

 

BANNER 1

Berita Terbaru