Proyek Pembangunan Bendungan Kayuangin Terkatung – Katung, Diduga Ada Pengusiran Kontraktor 

Warga Desa Kayuangin dan Desa Lombong Timur, Tolak Pembangunan Sementara Bendungan Kayuangin

Pojokcelebes.com | Proyek pembangunan bendungan Kayuangin di Kecamatan Malunda Kabupaten Majene, dikabarkan masih terkatung – katung. Proyek bendungan yang selayaknya tahun ini ( 2021 ) dikerjakan, malah terhambat dengan adanya sikap protes Kepala Desa Bambangan.     

Diketahui, belum lama ini pihak perusahaan PT. Muria Utama Makassar, melakukan pengukuran di lokasi pekerjaan, malah mendapat protes dari pihak masyarakat Bambangan dengan berujung pengusiran.

BACA JUGA

Musa, salah seorang pengawas proyek, mengaku proyek pembangunan bendungan Kayuangin, hingga saat ini menuai persoalan. Dimana kata dia, proyek yang seyogyanya dikerjakan tahun ini, masih terhambat dengan sikap protes warga Desa Kayuangin dengan alasan hanya batu di sungai.    

“ Dipermasalahkan Kepala Desa Bambangan adalah hanya persoalan batu di sungai saja. Soal alasan itu kami terima dan sudah ok dan langsung dicarikan solusi. Sempat pihak Satker ( PPK ) pak Jon mendatangi pak Bupati Lukman, serta pemerintah kecamatan untuk mencarikan solusi. Setelah solusi sudah ada dengan menyiapkan alat berat. Kami akan susun batu itu di pinggir sungai, ” kata Musa.

Lanjut kata dia, setelah adanya pertemuan Bupati Lukman dengan Desa Bambangan, serta Camat Malunda. Hasil pertemuan itu, bupati menyampaikan minta tolong supaya batu besar yang ada di bendungan itu bisa diatasi. Namun pihak Balai saat masuk ukur lokasi yang akan dikerjakan, malah di usir oleh Kades Bambangan.

“Setelah diusirnya anggota kami. saya langsung hubungi pak Camat Malunda, tolong pak camat apa maunya pak Desa Bambangan itu ? ” tanya Musa

Menurut Musa, sikap protes Pemdes Bambangan terhadap pembangunan bendungan Kayuangin, mengaku akan memperlambat proses pekerjaan pembangunan. Dan kata dia, jika seperti ini bisa saja proyek tidak akan berjalan. 

“ Sempat saya sampaikan kemarin, karena kita didesak juga dari pihak balai pusat. Jika proyek bendungan ini tidak dikerjakan, kira – kira siapa yang rugi jika anggaran proyek pembangunan bendungan ditarik oleh pusat, otomatis proyek bendungan ini tidak akan dikerjakan lagi, “ tutur Musa.

Dikonfirmasi kepada kades Bambangan Saefuddin, soal adanya dugaan pengusiran pihak perusahaan saat melakukan pengukuran, malah mengaku tidak mengusir tetapi menyuruh pulang, dengan alasan ditakutkan jangan sampai berbenturan dengan masyarakat setempat.

“ Saya tidak usir tetapi saya suruh pulang. Kami beserta dengan masyarakat sensitif dengan bendungan. Mau mengukur atau mau melihat lihat – lihat pasti warga sensitif. daripada ribut mending saya suruh pulang, “ kata Saefuddin kepada media ini.

Masih dia, salah satu alasan sampai ada sikap protes karena takut desa kena dampak dan namanya bendungan pasti terdampak ke desa yang terdekat, seperti genangannya dan banjirnya pasti ke Desa Bambang. Sehingga bersama masyarakat sepakat menolak pembangunan bendungan Kayuangin. Jika dipaksakan proyek ini, hanya Dua alternatif, masyarakat pindah dari Desa Bambangan atau proyek itu dipindahkan ketempat lain.  

“ Namanya bendungan semua area yang berhubungan dengan bendungan pasti terdampak dan sudah pasti Desa Bambangan yang sangat kena dampak. Makanya karena belajar pengalaman dari beberapa tahun yang lalu dan kesimpulannya kami tidak setuju jika bendungan itu dibangun. Persoalan ini, hanya Dua ji alternatif, kami yang pindah atau proyek yang pindah karena kami tidak mau kena dampaknya, “ tegas saefuddin.   

Menurut dia, sebelum jebolnya Bendungan Kayuangin selama ini Desa Bambangan menderita adanya genangan air yang terdampak ke Tiga dusun. Dan kata dia, saat banjir warga tidak bisa melewati sungai 

“ Kalau yang kena dampak langsung ada tiga Dusun yang mereka tinggal dipinggir sungai dengan jumlah 152 kepala keluarga yang tergenang. Kalau tidak langsung, ada lima dusun yang kena dampak ketika air naik sama – sama kita tidak bisa lewat di sungai karena tergenang “ ungkap Saefuddin

Lanjut Saefuddin, salah satu bukti bahwa Desa Bambangan berdampak dengan bendungan adanya sisa genangan lumpur yang sudah hampir sejajar dengan ke pemukiman warga setempat. Jika kembali di bangun bendungan ini beberapa tahun dipastikan desanya akan tenggelam dengan lumpur.

“ Makanya itu kalau ada kegiatan yang berhubungan bendungan, warga saya sangat sensitif. Sudah sampaikan kemarin jika mau lanjut harus rapat juga di Desa Bambangan, apapun permintaan dari warga saya itulah yang terjadi. Sampai hari ini karena belum ada pertemuan saya hanya mewakili aspirasi orang didalam. Bendungan yang dipindah atau kami yang dipindah,!” tegas Kades Bambangan. \Hid            

  

 

     

Bagikan :

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on telegram

BacaJuga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru