Penggunaan Dana BOS di Masa Pandemi Jadi Sorotan

Penggunaan Dana BOS di Masa Pandemi Jadi Sorotan

Pojokcelebes.com | Akibat pandemi Covid -19, memaksa anak – anak harus belajar dalam jaringan ( Daring ). Namun dalam proses belajar mengajar anak di tingkat SD,  masih terkendala dengan buku pelajaran atau buku tema yang harus disiapkan oleh masing – masing wali murid.  

Terkait aktivitas belajar Daring khususnya ditingkat SD. Sebenarnya pihak sekolah harus menyediakan sarana dan prasarana khususnya buku pelajaran bagi setiap murid. Namun ini, menjadi keluhan orang tua murid karena tidak mendapatkan hak anak seperti kelengkapan belajar mengajar khususnya buku pelajaran yang memang harus dimiliki si anak dalam mengikuti belajar Daring. Karena selama ini, bukannya pihak sekolah menyediakan buku, namun orang tua dibebankan untuk membeli di toko buku. Padahal di sekolah masing – masing memiliki dana biaya operasional sekolah ( BOS ).

BACA JUGA

“ iya , kalau belajar anak – anak harus membeli buku di toko buku. Kalau tidak beli buku, terpaksa anak – anak belajarnya tidak maksimal. kan kita tau di sekolah itu ada dana Bos. Nah, kalau tidak disediakan buku dana Bosnya di kemanakan, “tanya Ahmad salah seorang wali murid yang anaknya ada bersekolah di salah satu SD dalam kota Mamuju.     

Terkait penggunaan anggaran dana BOS setiap sekolah selama pandemi Covid – 19 di Kabupaten Mamuju, mendapat tanggapan dari Inspektur Inspektorat Kabupaten Mamuju, Ahmad Yani. Kepada media ini mengatakan bahwa, untuk penggunaan dana BOS selama pandemi sebenarnya sudah dalam monitor Inspektorat Kabupaten Mamuju. Namun karena keterbatasan anggaran pengawasannya belum  secara maksimal.  

“Kami akan konfirmasi kembali terkait adanya berita ini, dan kami akan turunkan Tim untuk mengkroscek dana BOS tahun 2020, minimal  sekolah yang ada di dalam kota Kabupaten Mamuju walaupun kami keterbatasan anggaran,” tegas Ahmad Yani kepada media ini.

Lanjut dia menyebutkan, sekolah pendidikan tingkat ( SD ) di Kabupaten Mamuju, diketahui ada 360 SD dan untuk sekolah tingkat ( SMP )  sekitar 60 sekolah. Sebanyak sekolah tersebut, kata dia, pengawasan oleh Inspektorat hanya mampu mengaudit Dana bos kurang lebih 10 sekolah yaitu 5 tingkat SD dan 5 tingkat SMP dengan alasan keterbatasan anggaran operasional.

“Karena keterbatasan anggaran, kami hanya mampu mengaudit dana Bo hanya 10 sekolah, itu pun kami mengkelaster yang mempunyai alokasi besar, ” ungkap Inspektur Ahmad Yani.

Lanjut kata dia, terkait adanya refocusing anggaran tahun 2020 memang juga berimbas ke Inspektorat. Makanya kata dia, beberapa kegiatan Inspektorat Mamuju tidak terlaksana dan masih sebatas wacana karena keterbatasan anggaran.

“Terkait dana BOS tahun 2020 memang kami belum melakukan pemeriksaan. Dan sebenarnya tahun 2021 ini kami juga belum mengalokasikan kapan pemeriksaan dana BOS karena porsi anggaran itu.” kata Ahmad Yani kepada media ini.

Masih kata dia, dengan informasi penyerapan dana Bos di masa pandemi ini lewat media. Pihak Inspektorat nantinya akan tetap mengalokasikan anggaran tahun 2021 ini walaupun sedikit.

“Saya rasa adanya informasi yang kami terima lewat Media ini, itu sudah ada bahan masukan kepada kami untuk berbuat lebih baik lagi. Dan kami lebih senang jika ada masukan seperti ini, Dana BOS Tahun 2020 yang tak sempat kami periksa karena adanya bencana pandemi Covid-19 ini, mengakibatkan refocusing anggaran.” ungkapnya./Hid

Bagikan :

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on telegram

BacaJuga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

AYO BERIKLAN…..!!

 

IKLANKAN USAHA ANDA !

Ekonomi

IKLAN MURAH HANYA DISINI !

 

 

BANNER 1

Berita Terbaru