Aroma Korupsi Menyengat di Proyek Pembangunan Pasar Rakyat Lakahang 

Aroma Korupsi Menyengat di Proyek Pembangunan Pasar Rakyat Lakahang 

Pojokcelebes.com | Keberadaan bangunan pasar Rakyat Lakahang di Kecamatan Lakahang Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat ( Sulbar ), kembali disorot.

Proyek dari kementerian terkait  yang disebut – sebut menyerap anggaran 5,5 Miliar bersumber dari APBN tahun 2019, sangat kuat aroma korupsi karena ada dugaan permainan nakal para oknum rekanan yang tidak mampu menyelesaikan proyek yang bersumber dari APBN tahun 2019 itu.

BACA JUGA

Bangunan pasar yang sejatinya selesai di tahun 2020 dan harus dinikmati oleh masyarakat setempat. Namun sampai saat ini tertahan karena sejumlah item pekerjaan terlihat belum rampung alias belum selesai dikerjakan oleh kontraktor. Mangkraknya proyek kementerian ini membuat, kondisi bangunan pasar sebagian sudah rusak.

Dari hasil investigasi pojokcelebes.com, di lokasi bangunan pasar. Sangat jelas terlihat bangunan pasar tersebut memprihatinkan. Bangunan pasar yang masih terlihat berdiri kokoh sudah ditumbuhi rumput. Sejumlah potongan bambu masih menempel di bagian dinding bangunan yang menandakan pasar tersebut ditinggal begitu saja pekerjaannya. Tidak hanya itu, sebagian dinding bangunan pasar sebagian belum selesai diplester dan pipa aliran air masih berantakan karena belum dipasang krang.

Salah seorang pedagang, Hasriani kepada media ini mengaku, hingga saat ini keberadaan bangunan pasar tersebut belum sempat dimanfaatkan masyarakat khususnya para pedagang dikarenakan belum rampung, pada hal sudah lewat setahun ( 2021 ).

” Memang pasar tersebut belum selesai pak dikerjakan makanya belum difungsikan. Ini sudah tahun 2021, masa kok tidak digunakan. Anggarannya kemana ?” Tanya Hasriani.

Selain itu kata dia, dari pantunnya model lapak yang ditempatkan dalam gedung pasar, terlihat berukuran kecil dan dipastikan tidak akan digunakan para pedagang.

” Misalnya jika pasar itu selesai di kerja, para pedagang akan berpikir untuk masuk kedalam gedung karena sempit lapak – lapaknya sebab berukurang kecil dan tidak memuaskan dan bahkan terancam mubazir.” terangnya.

Lurah Lakahang, Ebson mengaku bahwa proyek pasar tersebut tidak rampung dikerjakan oleh rekanan sebagai pemenang tender. Diperkirakan bobot pekerjaan masih kisaran 70 persen. Proyek pembangunan pasar yang berada di Kelurahan Lakahang, semakin dipertanyakan oleh aparat pemerintahan Kelurahan setempat, pasalnya selama pekerjaan proyek tersebut tidak menunjukan ke publik nilai anggaran yang digunakan karena memang tidak terlihat papan proyek yang dipasang di area proyek.

” Memang pasar tersebut tidak selesai di kerja dan baru berbobot 70 persen di bangun tahun 2019, tapi anggarannya saya tidak tahu berapa nominalnya karna dalam tahapan pekerjaan tidak di pasang papan proyeknya.” Kata Ebson

” Pernah saya kasih tau, tolong segera di pasang papan proyeknya karena banyak yang mempertanyakan, pihak kontraktor sempat pasang papan proyek di sudut bangunan pasar. ” Lanjut Ebson

Selain itu, dia juga mengaku bahwa nilai nominal anggaran adendum pembangunan tidak mengetahuinya.

” Kalau nominal anggaran adendum pembangunan pasar, kami tidak tau karena tidak ada penyampaian ke Pemerintah Kelurahan.”jelasnya 

Dia mengaku, jika ada proyek masuk di wilayahnya, biasanya kontraktor meminta dibuatkan surat bobot bangunan yang di kerja, dilanjutkan dengan permintaan menghadirkan konsultan untuk menguraikan pekerjaan.

” Biasanya kalau ada proyek masuk ke wilayah saya, pihak kontraktor meminta dibuatkan surat keterangan terkait bobot bangunan yang di kerja, terus pihak kontraktor saya minta datangkan konsultan untuk menguraikan pekerjaan selesai sekian persen dan mentaksir bobotnya.”jelasnya 

Sementara pasar yang di Lakahang ini, mengaku tidak pernah buatkan surat keterangan apakah proyek ini selesai atau tidak, karena para pekerjanya tiba – tiba hilang entah kemana. 

” Kami berharap Pemerintah bisa hadir untuk bisa menyelesaikan bangunan pasar tersebut karena pasar adalah tempat perputaran perekonomian bagi masyarakat.” Ujar Ebson

Di tempat terpisah, Minarni selaku PPK pada Dinas Koperasi UMKM perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mamasa membenarkan, proyek pembangunan pasar Rakyat Lakahan, memang belum rampung karena kontraktornya tidak mampu menyelesaikannya sehingga proyek ini putus kontrak dan berimbas pada pembayaran.

Kata dia, salah satu alasan pihak kontraktor berhenti karena tenaga pekerja ( tukang )  kurang. Hal ini kata dia, pihak PPK mendesak agar di tambah tenaga kerjanya, sementara deadline waktu pekerjaan sudah sangat mepet. Makanya sebut dia, tidak terkejar dan tidak rampung karna jatuh tempo pekerjaan pasar tanggal 31 Desember 2018. Dan menurut konsultan pengawas bobot pekerjaan bangunan pasar tersebut hanya 90 persen.

” Sumber anggarannya dari APBN tahun 2019 dengan nominal di kontrak 5,5 milyar. Dan memang proyek ini putus kontrak karena volume pekerjaannya tidak mencapai 100 persen,” jelasnya./zul

Bagikan :

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on telegram

BacaJuga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

AYO BERIKLAN…..!!

 

IKLANKAN USAHA ANDA !

Ekonomi

IKLAN MURAH HANYA DISINI !

 

 

BANNER 1

Berita Terbaru