banner 728x250

Perumahan Nelayan di Sumare Ditempati Pegawai, Nelayan Gigit Jari

  • Bagikan
Ket Foto : Salah satu rumah nelayan yang ada di Desa Sumare, terlihat sudah berubah karena sudah di renovasi pemiliknya.  
banner 468x60

Pojokcelebes.com | Keberadaan bantuan perumahan nelayan di Desa Sumare Kecamatan Simboro Kabupaten Mamuju, dinilai salah sasaran. Perumahan yang seyogyanya diperuntukan bagi masyarakat nelayan, namun yang menempati sebagian adalah pegawai dan bukan pekerja nelayan.     

Dari pantauan pojokcelebes.com, perumahan nelayan tersebut sudah sebagian di renovasi pemiliknya dan tidak terlihat lagi model perumahan nelayan yang sejatinya adalah bantuan.  

banner 336x280

Beberapa pengakuan nelayan asal Desa Sumare, yang mengatakan keberadaan perumahan bantuan untuk nelayan tahun 2015, para nelayan kala itu sangat senang terutama nelayan lokal karena akan memiliki rumah secara permanen lengkap dengan fasilitasnya. Namun yang terjadi, sejak perumahan tersebut rampung dibangun, fakta yang terjadi penghuni perumahan yang pekerja sebagai nelayan bisa hitung dengan jari dan yang lainnya sebagian bukan warga nelayan.

Misalnya, Anwar salah seorang nelayan asal Desa Sumare, mengaku sangat disesalkan bantuan pemerintah yang masuk di Desa Sumare, yang menikmati bukan nelayan. Padahal jauh sebelum nya, Presiden Jokowi saat bertandang ke Desa Sumare, untuk menyapa masyarakat nelayan sangat jelas mengatakan bantuan tersebut diperuntukkan untuk para nelayan yang ada di Sumare bukan untuk pegawai honor.

” Sangat jelas sekali saat pak Jokowi datang ke Sumare, mengatakan bahwa perumahan itu diperuntukan untuk nelayan di Desa Sumare. Namun yang terjadi banyak warga yang menempati bukan nelayan bahkan ada pegawai dan pedagang bahkan ada pekerja security, ” kata Darwin, kepada pojokcelebes.com. Sabtu ( 11/9 ).

Menurut dia, untuk bisa mendapatkan perumahan tersebut, nelayan harus menyiapkan uang 300 ribu per kepala keluarga ( KK ). Hal ini sangat menyulitkan warga nelayan. Namun bagi masyarakat nelayan yang ingin sekali memiliki rumah terpaksa sebagian harus meminjam.

” saya masih ingat dulu itu, pengurus perumahan meminta kepada setiap nelayan sehingga warga nelayan harus menyiapkan uang sebanyak 300 Ribu rupiah untuk bisa mendapatkan perumahan tersebut. Bagi nelayan yang punya duit tentu bisa menempati rumah bantuan itu, kendati meminjam uang di luar, ” ungkap Anwar.    

Ket Foto : pintu gerbang masuk di perumahan nelayan Desa Sumare.
Ket Foto : Deretan perumahan nelayan di Desa Sumare, yang dinilai tidak tepat sasaran.

Senada dengan Darwin, mengaku dirinya pernah ditawari perumahan nelayan oleh pengurus namun disampaikan bagai nelayan yang belum memiliki rumah. Namun kenyataannya, yang menempati sebagian bukan bekerja nelayan melainkan warga yang bekerja sebagai pegawai honorer dan pekerja pegawai PLN. Diperkirakan kata dia, jumlah perumahan nelayan yang ada hanya 100 unit, namun yang menempati hanya 30 KK adalah nelayan lokal dan 70 KK lainnya bukan nelayan atau bekerja lain.

“Saya berharap pemerintah bisa datang kembali memeriksa perumahan tersebut yang salah sasaran. Karena perumahan tersebut bukan lagi disebut perumahan nelayan karena warga yang menempati kebanyakan warga yang tidak bekerja sebagai nelayan, bahkan ada pegawai dinas dan beberapa pegawai kontrak menempati rumah nelayan itu, ” kesal Darwin

Ditemui Plt Kades Sumare Amal Ma’ruf, kepada media ini mengaku dari hasil rapat rumah nelayan diperuntukan bagi warga nelayan yang belum punya rumah.

“kita ambil kesepakatan artinya kita tidak prioritaskan itu,yang kita prioritaskan itu yang betul – betul belum punya rumah. Walaupun dia bekerja nelayan tapi dia sudah punya rumah itu tidak bisa, kecuali dia punya anak yang belum memiliki rumah.” jelas Amal.

Saat ditanya, apakah ada pegawai yang menempati rumah nelayan tersebut. Amal mengakui bahwa tidak ada pegawai yang tinggal di rumah nelayan Desa Sumare. Namun ada salah seorang guru tinggal disana yang belum diketahui apakah dikontrakan atau tidak.       

“Tidak ada pegawai di sana sampai sekarang belum ada pegawai. Tetapi rumah milik Ma’nih, kebetulan ada ibu guru disitu, kita tidak tahu bagaimana kesepakatan antara pemiliknya.” terangnya.

Dia mengaku, lokasi yang ditempati perumahan nelayan itu harusnya namun nyatanya tidak sehingga pemilik lahan yang punya lahan dengan luas Dua hektar harus punya jatah.

” Pemilik lahan yang ditempati perumahan nelayan itu harus punya jatah perumahan karena lokasi itu tidak dihibahkan. Memang ada satu terlibat disitu pegawai, kita tidak tau baku atur bagaimana karena memang ada pengaturan pemilik rumah apakah hak pinjam atau bagaimana,” kata Kades Sumare.|Dar|Zul

 

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.